seafoodmanagementconsultant

KONSULTAN INDUSTRI PENGOLAHAN PERIKANAN

10 ALASAN YANG MENYEBABKAN INDUSTRI PERIKANAN GAGAL BERTAHAN

Banyak orang yang mengira bahwa industri perikanan adalah industri yang mudah untuk dirambah. Kelihatannya memang tidak sulit, bagaimana kita menerima bahan baku kemudian mengolahnya dan menjualnya yang mungkin dengan harga yang berkali-kali lipat dibandingkan dengan harga bahan bakunya. Namun, seringkali kita melihat jarang sekali perusahaan perikanan, khususnya lokal, dapat berkembang secara pesat sampai dengan puluhan tahun. Lalu apa yang menjadi kesulitan dari pengembangan industri perikanan di Indonesia.

(1) Kegagalan dalam perencanaan produksi
Salah satu keunikan dari industri perikanan adalah kedekatan dengan faktor dan siklus alam yang tidak menentu. Di mana otomatis, hal tersebut akan menyebabkan ke dalam kerumitan tertentu untuk perencanaan produksi. Misalnya, ketika suatu industri memprediksi bahwa bahan baku akan datang dengan jumlah banyak dan sudah mempersiapkan tenaga kerja untuk mengolah produk tersebut, namun ternyata gagal produksi, tentu kerugian yang akan di dapatkan. Belum lagi ketidaktepatan dalam realisasi produksi yang akan dijalankan untuk dijual kepada pelanggan.

(2) Kesalahan dalam melakukan proses penyusunan budget
Salah satu keunikan dalam industri perikanan adalah kesulitan dalam mengukur seberapa besar budget yang harus dikeluarkan untuk alokasi sumber daya manusia. Beberapa perusahaan mengeluaran strategi menetapkan budget dengan biaya yang tinggi namun hasil pengadaan bahan baku nilainya tidak sebanyak dengan hasil yang didapatkan. Menarik untuk dicermati, lalu apakah industri ini seperti bermain judi? Tentu tidak, dalam industri perikanan peranan Finance Controller memegang peranan penting untuk menghitung strategi yang tepat apakan pengeluaran biaya alokasi bahan baku tersebut dapat menghasilkan estimasi pengadaan yang sepandan. Hal ini tentu saja, harus disertai dengan pengalaman yang tepat.

(3) Alpa dalam menerapkan Sistem Manajemen Keamanan Pangan
Dibandingkan dengan industri pangan lainnya, industri perikanan adalah jenis industri yang memiliki tingkat komitmen yang sangat tinggi terhadap aplikasi Sistem Manajemen Keamanan Pangan (HACCP dan Sistem ISO 22000). Selain karena peraturan dan regulasi yang ditetapkan cenderung sangat kuat, produk perikanan itu sendiri masuk ke dalam kategori produk dengan resiko tinggi. Tentu saja pelaku industri sebaiknya berpikir untuk tidak melakukan tindakan yang dapat merugikan konsumen, yang tentu saja akan berakibat kepada kepercayaan dalam bisnis.

(4) Tidak Menjaga Kualitas
Kesalahan yang paling sering muncul pada industri mana pun, tidak hanya perikanan. Namun khusus perikanan, apabila suatu industri ingin memasuki suatu area dengan segmentasi high level, tentu saja harus mempertimbangkan biaya kualitas sebagai bentuk akomodasi dari proses operasional bisnis. Tindakan ambil untung besar dengan mengorbankan kualitas akan berakibat hilangnya kepercayaan konsumen kepada pelaku industri.

(5) Kegagalan dalam mengembangkan kompetensi SDM
Faktor ini sebenarnya juga tidak hanya dapat merusak proses bisnis, namun juga akan beresiko terhadap produk. Kegagalan perusahaan untuk mendapatkan karyawan yang kompeten dan tidak memiliki aspek disiplin yang tinggi akan berakibat pada nilai reject dalam produk. Bahan baku dengan kualitas paling tinggi sekalipun apabila tidak dapat diproses secara tepat dalam suatu proses industri akan menyebabkan kerusakan produk selama proses dan penurunan kualitas. Mengingat produk perikanan yang bersifat perishable, maka prinsip dan konsep Just in Time adalah suatu konsep penting yang harus diusung dalam mengaplikasikan sistem pengelolaan sumber daya manusia.

(6) Penempatan dalam Bisnis
Bagaimana industri memposisikan dirinya dalam bisnis perikanan. Nilai keuntungan akan semakin tinggi, apabila industri perikanan tersebut menggunakan strategi dari hulu ke hilir. Artinya memiliki intervensi langsung untuk pengadaan bahan baku (tanpa menggunakan banyak perantara) dan berhubungan langsung dengan pelanggan akhir. Selain dapat mengambil nilai efisiensi dari berkurangnya rantai bisnis tersebut, proses penyerapan dari produk juga sangat optimal untuk dijalankan.

(7) Tidak Mengembangkan Inovasi dalam Produk
Gagal dalam mengembangkan konsep produk, juga menjadi faktor penentu keberlangsungan dari usaha perikanan. Produk frozen tanpa adanya penambahan mungkin dalam aspek proses akan lebih murah dan cepat namun penyerapan produk tidak luas dan tidak konsisten. Produk dengan penambahan nilai, atau yang biasa disebut dengan value added product, memiliki nilai penyerapan yang luas karena dapat menjangkau bagian hilir dari bisnis. Inovasi produk juga harus dipertimbangkan dengan melihat bahan baku apa yang paling banyak berada di area pabrik atau industri tersebut, pastikan pasokan bahan baku tersedia secara konsisten dengan harga yang masuk ke dalam kalkulasi budget proses produksi.

(8) Tidak Patuh Peraturan
Hampir di semua industri, terdapat kewajiban pada pelaku industri untuk mematuhi peraturan. Khusus untuk perikanan kepatuhan ini akan mempengaruhi perijinan operasional untuk kebutuhan ekspor. Mengingat nilai jual ekspor yang sangat tinggi dengan penyerapan yang lebih baik dibandingkan dengan pasar lokal, maka sebaiknya perusahaan memastikan adanya komitmen yang kuat baik itu finansial maupun legal untuk mematuhi persyaratan yang ada, seperti aspek legal dalam ekspor impor, penjaminan limbah serta pemeriksaannya dan aturan terkait lainnya.

(9) Lupa untuk Membangun Pasar
Salah satu strategi yang tepat dalam industri perikanan, adalah pelaku industri perikanan harus mampu membaca kebutuhan pasar. Banyaknya kompetitor, memaksa pelaku industri untuk memutar otak pada pengembangan pasar yang akan ditetapkan untuk optimal dirambah. Pasar retail dan food service adalah pasar yang memberikan nilai penyerapan yang tinggi pada beberapa negara, sehingga pelaku industri ada baiknya mempelajari prilaku dari negara tersebut untuk memastikan bahwa produk yang dihasilkan dalam menempati pasar yang dimaksud.

(10) Tidak Terdapat Sistem Manajemen
Sesederhana apa pun suatu bentuk industri, harus dipastikan bahwa dalam industri tersebut harus terdapat SOP (Standard Operating Procedure) yang tepat untuk memastikan bahwa tahapan proses dijalankan tanpa adanya tumpang tindih antara proses yang satu dengan proses lainnya. Bagaimana mendeskripsikan pekerjaan yang tepat pada individu pelaku pekerjaan yang dimaksud. Termasuk di dalamnya memastikan pencatatan terhadap proses tersebut dijalankan secara tepat, sehingga hitungan dan evaluasi pada tiap tahapan dapat dijalankan secara sistematis.

Demikian 10 Alasan yang menyebabkan kesulitan pelaku industri perikanan untuk mempertahankan bisnis dan industrinya. Ada baiknya apabila pelaku industri ingin menjaga komitmen dan konsistensi terhadap bisnis yang dimilikinya, carilah referensi yang tepat untuk memecahkan masalah dalam usaha Anda. Misalnya dengan menggunakan konsultan di bidang jasa perikanan yang memang dapat mengakomodasi usaha Anda dengan optimal. (amarylliap@yahoo.com, 08129369926)

Januari 8, 2012 - Posted by | Pengolahan Produk, Uncategorized | , , , , , , , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: